Senin, 14 November 2016

Mitos Pasar Siluman Gunung Slamet




Kabut asap tiba-tiba menebal, sementara Tarsun sudah terpisah  dari groupnya, dia sudah berteriak , tapi semua diam tak ada satupun sautan balik dari yang  dipanggilnya,” secepat itukah perpisaha n terjadi, sedang kan ia merasa baru beberapa menit terlepas dari formasi gandengan tangan antara satu dengan teman group yang lainnya”. Pikirnya. “Aku telah berbuat kesalahan. Sekarang ,keselamatan pendakian ini tergantung diriku sendiri”. Dia harus keluar dari daerah putih penuh kabut itu, tapi kemana , ia hanya bisa mencoba berjalan tanpa arah dan tanpa tujuan yang jelas, sementara kabut semakin pekat menutupi semua pemandangan dan jalan.

Ia berdiri diam , berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk diberikan keselamatan dan perlindungannya. Dan tak lama do’a yang khusuk itu pun terjawab,  t iba-tiba angin berhembus lebih kencang , perlahan membawa lapisan-lapisan kabut menjadi berkurang. Pemandangan di sekitarnya mulai nampak kembali
.
Bukan hanya sekedar kembalinya keadaan menjadi cerah tanpa penghalang pandang , tapi lebih jauh lagi ia samar-samar mendengar suara keramaian dan lama kelamaan suara itu terdengar semakin jelas. Semua  disekitar berubah , dan sadar ia sedang berada di tengah-tengah pasar.

Rasa lapar seperti menghancurkan logika ketika pandangannya tertuju pada sebuah warung makan dengan berbagai menu yang mengundang selera, tanpa pikir panjang  masuk saja ke warung tersebut dan segera memilih makanan yang telah terpajang, dari sekian banyak variasi makanan dari sayur , ikan, daging hingga buah-buahan segar. Tarsun memilih tempe , gorengan udang, ikan gabus kesukaannya sebagai lauknya , pelayan warung mengambilkan semua yang dipilihnya dan   Tarsunpun langsung memakannya dengan lahap , maal meel maal meel sampe perut  benar-benar terasa   kenyang. Ia  menghentikan makannya , di piring masih tersisa beberapa po tong tempe, udang kecuali ikan gabus yang  tinggal  kepala  tersisa,  membayarnya untuk selanjutnya   pamit meninggalkan warung.

Dengan perasaan perut yang sudah kenyang, aktifitas pasar yang penuh orang yang tak satupun  dikenalinya tiba-tiba  terbesit dipikiran akan nasib teman-temannya, kalau mereka ada di daerah itu. Ia  berkeliling  di setiap sudut pasar mengharap apa yang ada dalam pikirannya itu benar , yaitu menemukan teman-t eman groupnya yang telah terpisah beberapa waktu lalu.
Lama ia menelusuri daerah itu namun tak satupun yang diharapkannya mejadi kenyataan untuk bertamu orang yang dikenal hingga ia lelah dan perlu beristri rahat. Dibawah balkon sebuah emperan t oko ia duduk bersandar pad a dindingnya , mungkin perasaan letih dan kenyang membuat ia mengantuk untuk kemudian tertidur.

Langit Gunung sangat cerah. Hawa dingin yang sedingin salju dalam ketinggian ribuan meter tak begitu dirasakan oleh jaket tebal yang telah dirancang khusus untuk para pendaki. Dengan kehilangan satu anggotanya Jack, Darwin, Manto, Satam dan Nicolas berhasil menancabkan bendera di puncak Gunung Selamet  tidak jauh dari kawahnya yang luas dan perkasa ,dengan rasa kagum mereka memuji keagungan Sang Pencipta,mereka menengadahkan tangan  memanjatkan do’a  entah do’a apa yang dipanjatkan, ada pula yang bersujud diatas pasir, tak lupa berphoto-photo untuk dokumen dan kenang-kenangan  ,setelah cukup tercapai semua yang dilakukan,tubuh juga sudah teresa menggigil, tibalah sa’atnya diputuskan untuk pulang, masih ada yang harus dilakukan , yaitu mencari Tarsun yang terpisah dan menghilang tanpa jejak.  Tak sampai hati kembali tanpa kepastian bagaimana  nasib  satu dari   anggotanya itu. Seiring perjalanan pulang  ditelusurinya kembali  semua arah ,alur dan tempat –tempat yang dicurigai dimana kemungkinan Tarsun berada, tak jarang harus menempuh jalan sulit yang sebelumnya tidak mereka lalui.

Di suatu sudut berdiri tegak sebuah pohon kayu besar , dibawahnya banyak tumpukan batu cadas sisa semburan lahar panas yang telah mendingin menjadi layaknya batu yang keras tersusun di atas dataran rata yang  sejuk, nampak disana seorang laki-laki tengah tidur lelap di atasnya. Sontak merekapun menghampiri dan ternyata laki-laki itu seorang yang sedang mereka cari yang tak lain adalah Tarsun.

Nicolas : “ Oh my God, Tarsun !”

Bentakan Nicolas membuat Tarsun terbangun. Celingukan tak jelas, sebelum akhirnya sadar didepan tengah ada semua orang –yang dikenal.

Tarsun : “ haah, ! aku menemukan kalian?”
Satam  : “. Kemana aja ,lo ?”

Tarsun  langsung memeluk yang memanggilnya.

Tarsun  :  “Pasar!”
Satam  :  “ Pasar apa ? ini hutan, Gunung Slamet”.
Tarsun  :  “ Aku baru saja menemukan pasar di tempat ini, aku baru saja makan diwarung itu”.

Tarsun menunjuk ke arah sebuah pohon yan lain, pada setumpuk lempengan batu yang tersusun demikian rupa dibawahnya, diatas batu masih tergeletak beberapa daun lebar, diatasnya beberapa potong tubuh kalajengking, di lembar daun yang lain tergeletak kepala kadal dan bebrapa potong kulit kayu seperti sisa sebuah menu makan yang beru saja dimakan orang.

Jack      : “Makan?”
Tarsun  : “Ya, makan....aku makan udang goreng, ikan gabus dan tempe bacem kesukaanku”

Tarsun mengamati lebih detil apa yang tersisa diatas lembaran-lembaran daun yang tergeletak dimana formasi letaknya sama seperti piring-piring tempat yang baru ia gunakan sebagai wadah makanannya.

Darwin   : “Sisa-sisa potongan binatang itulah yang telah kau makan”

Tarsun melotot ke Darwin

Darwin  :  “Aku pernah mendengar cerita ada pasar siluman di Gunung ini, tapi aku pikir itu hanya                       mitos.
Manto  : “ Maksudmu Tarsun barusan nyasar ke pasar siluman dan makan disebuah warung dengan                      menu makanan kesukaan yang dia pilih ternyata di alam nyata sebenarnya kalajengking,                      kadal dan potongan kayu itu?"

Darwin hanya menganggukan kepala. Pernyataan Darwin bak petir dalam hati Tarsun, teringat akan lahapnya makan karena lapar.

Satam tertawa , hal serupa juga dilakukan oleh teman yang lainnya kecuali Nicolas yang memilih tak  main-main memandang hal ini.

Nicolas : “ Apapun itu, sepertinya jangan lama-lama membahasnya ,kita harus capat-cepat                                    meninggalkan tempat ini sebelum sesuatu terjadi juga pada kita”

Tanpa satupun yang menyanggah , anjuran Nicolas langsung diiyakan. Perasaan tidak enak seperti sama-sama mendadak hinggap pada diri mereka masing-masing, bagaimana kalo  apa yang menimpa Tarsun menimpa juga  pada  diri mereka ,

Tak banyak kata, obrolan apalagi bercanda untuk kali ini mereka lebih fokus berjalan bahkan jalan mereka lebih cenderung semakin dpercepat tanpa harus seseorang memberi komando. Dalam diam sebenarnya mereka bicara dalam hati masing-masing, ingin cepat sampai , ingin capat melewati batas tempat angker itu, atau masuk ke pasar siluman seperti yang terjadi pada satu anggota mereka , atau sesuatu keanehan yang lebih parah lagi.
Sampai Jumpa.............

0 komentar:

Posting Komentar