Kamis, 04 Januari 2018

HANDPHONE LAYAR SENTUH TERINSPIRASI DARI SEBUAH WARTEG?



Sebelum layar sentuh gadget diciptakan, navigasi pada tombol hape masih menggunakan keyped di sebuah tempat khusus sebagai keyboard. Setiap huruf perlu ditekan keras-keras baru bisa tercetak sebuah huruf yang diinginkan. Tanpa nada tombol yang diaktifkan setiap huruf yang diketik sudah bernada klik yang dihasilkan dari gesekan antara tombol huruf dan bantalan keypad yang terdapat di pcb pesawat itu sendiri.

Konon pada suatu hari seorang designer handphone ternama tengah melakukan lawatannya ke Indonesia. Begitu asyiknya jalan-jalan menelusuri ibukota Indonesia yaitu Jakarta menikmati pemandangan yang ada dan begitu respect akan penduduknya yang ramah memberi kesan akan sebuah negeri yang aman dan begitu bersahabat membuat ia merasa berada dinegeri sendiri.

Iapun berjalan tanpa ragu meski dipinggiran jalan yang panas hingga perut terasa lapar. Ia melirik sebuah warteg (Warung Tegal) dan banyak menu-menu makanan yang tertata disebuah kotak kaca. Diperhatikan setiap pengunjung yang masuk ke warteg dengan tak banyak berkata menempelkan jari telunjuknya dipermukaan kotak kaca mengarah pada makanan-makanan tertentu. Petugas warteg tak banyak kata juga langsung mengambil jenis-jenis makanan yang ditunjuknya seraya menghidangkan tepat didepannya.

Sebagai orang yang punya masyalah dengan bahasa untuk berkomunikasi karena tidak ada yang bisa meladeni omongannya dikarenakan bahasa Inggris yang sudah pasti sangat fasih nyaris hanya terdengar was wes wos, ia merasa itu sebuah keuntungan yang bisa diambil dari gaya mereka dalam memesan makanan.

Pria bule itupun masuk ke Warteg dan melakukan hal yang sama dengan pengunjung-pengunjung sebelumnya dalam hal memesan makanan, yaitu menatap teliti menu-menu didalam kotak kaca yang  terpampang di atas meja makan dan kemudian menyentuh kacanya searah jenis makanan yang diinginkan.

Dengan senang hati pelayanpun mengambilnya, lalu menghidangkannya tepat didepannya, bahkan dengan senyum khasnya yaitu ramah dan bersahaja.

Berapa kata yang telah dia irit dan berapa komunikasi yang telah diwakili dari cara-cara tersebut. Begitu praktisnya sentuhan halus jari-jarinya, bahkan ia mampu memesan makanan sekaligus menikmatinya tanpa sepatah kata, walau akhirnya ia tetap bicara beberapa patah kata, mungkin untuk tidak dikira orang bisu meski mereka tetap saja tidak tahu apa maksud yang dikatakannya.Yang mereka tahu apa yang ia katakan adalah tidak lebih dari was wes wos.

Bukan masyalah tentang makan saja yang ia pikirkan menjelang tidur dikamar hotel. Dari sebuah Warteg naluri seorang pengembang aplikasi munculah ide yang imposible tapi pasible. Sesuatu yang tidak mungkin tapi bukan tidak mungkin bisa terjadi pada sebuah pesawat ciptaanya yaitu handphone. Rasanya jari-jari lentik yang halus akan lebih gemulai dan indah jika dalam mengetik hapenya selembut menempelkan pada kaca kotak menu warteg tanpa harus kerja keras menekan tombol-tombol disana.

Mungkin sedikit sulit tidur dengan hayalan yang masih muskil tapi ide yang teramat bagus dalam menelusuri anak tangga jaman yang kian penuh dengan tuntutan kemajuan.

Orang bijak bilang, kadang segala sesuat itu berawal dari impian. Hal itu  benar adanya. Dan apa yang kita alami kenyataan itupun terjadi. Terciptalah teknologi touchscreen (layar sentuh), dimana sebuah teknologi interface pada henpon yang memungkinkan mengetik huruf dan membuka aplikasi-aplikasi cukup dengan menyentuhkan kulit ujung jari. Lihatlah jemari lentik itu, cat kuku itu, mengetul, menggeser dan mengotak atik semua tentang hape tanpa harus bekerja keras, dan tak lagi takut kapalan.

Mungkin itu satu dari sekian inspirasi telah diaplikasikan untuk digunakan membantu pada sesama .  Seiring masa demi masa manusia tak kan pernah berhenti untuk mencoba  tanpa memandang dari mana sumber ide itu datang. Mereka yang tak mengabaikan kesempurnaan sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna yang diberi akal pikiran yang tidak sama dengan makhluk lainnya.Mereka yang pemalas berpikir talah mengabaikan semua itu dan telah memubadzirkan anugerah Sang Pencipta mungkin akan dimintai pertanggungjawaban.

Kalau dari sebuah warteg sang pemikir itu berhasil mengubah dunia, bagaimana dari sudut-sudut yang lain yang kita temui didunia ini, mungkin masih banyak lubang -lubang yang belum digali.

Itulah kisah layar sentuh dari Warung Tegal, sepintas mirip sebuah banyolan, tapi banyolan yang bermakna. Dan ketika sang pengembang itu keluar dari Wartegpun mungkin pikirannya tetap tidak diam, saat melihat sisa debu yang masih tertinggal di ujung kulit jari , hal itu membuat dia berpikir lagi, bagaimana jika mengetik hapenya tanpa menyentuh layar sentuhnya, pasti tak ada debu yang tertinggal dikulit ujung jari, keadaan akan menjadi lebih baik. Itu dugaanku mencoba membaca pikirannya. Mudah-mudahan tidak pas, sebab jika tidak pas, itu berarti hanya ideku seorang. dari pada dia yang akan mengembangkan menjadi teknologi yang demikian, lebih baik aku yang akan melakukannya. Mengembangkannya dinegeri sendiri, negeri pemilik Warteg itu sendiri, Indonesia.

Setelah pengembangan itu berhasil yang terjadi tak ada lagi istilah touchscreen atau layar sentuh, tapi akan ganti menjadi untouchscreen atau layar non sentuh, harganya mungkin naik beberapa tingkat, tapi tak apalah sebagai penghargaan hasil kemajuan. He he, harap jangan remehkan hayalan ini apalagi mentertawakannya,jelek-jelek ini adalah ide anak bangsa, sebab, sampai saatnya nanti, anda akan ingat saya. Terima kasih semoga semua yang tertuang di artikel ini menginspirasi anda juga.

0 komentar:

Posting Komentar