Selasa, 02 Januari 2018

Kecerdasan Otak atau Nasib


Ada dua anak manusia yang tidak sama, yaitu Cika dan Santi, keduanya adalah pelajar disebuah sekolah yang sama dan dikelas yang sama. Cika memang terkenal murid yang paling cerdas di sekolah. Tak heran jika Cika selalu menduduki rangking tertinggi disekolahnya. Sebagai orang yang dikaruniai anugerah otak yang bernalar tinggi, Cika begitu mengagumi kecerdasan dirinya.


 Berbeda dengan Santi, dia termasuk pelajar yang berotak biasa-biasa saja,  Maka dia harus  rajin belajar, agar mendapatkan nilai yang baik, ia  tidak mau ketinggalan dengan murid yang lainnya, apalagi sampai tidak naik kelas.

Sebagai pelajar yang sadar akan kecerdasannya yang dibawah rata-rata, dia berpikir, bahwa mengandalkan otak saja tidak  cukup.  Oleh karena itu, beberapa hari sebelum hari H dimulai, ia datang kepada guru ngaji. Oleh guru ngaji dia disuruh berpuasa 3 hari dan mengamalkan sesuatu wirid yang harus dibaca setiap ba'da sholat. Tugas itu ia lakukan dengan sebaik-baiknya.

 Ujianpun dimulai,  mata pelajaran demi mata pelajaran tak satupun terlewati.  Sampai pada keputusan terakhir diumumkannya nilai ujian, sungguh tak disangka ternyata Santilah ranking pertama dan Cika  yang dikenal paling cerdas dan tak pernah punya kesulitan mengisi soal hanya berada diurutan ketiga .. So, kenapa?

Memangnya kenapa, hidup memang kadang begitu, tak semua logika itu harus pas dengan logika. Perhitungan itu tidak terpaku pada satu titik obyekyang mana harus sesuai dangan angka-angka  timbul pada kacamata yang telanjang.

Cika memang begitu mengagumi kecerdasannya tapi bukan nasibnya. Santi bisa saja menyadari akan keterbatasannya tapi bukan usahanya. Bukan hanya sekedar keberuntungan, saat tangan Tuhan yang bicara apa saja bisa terlaksana, bahkan yang tidak dijangkau oleh akal sehat. Percaya diri itu hal yang paling baik agar kita tidak ragu-ragu, tapi percaya diri yang berlebihan bisa beujung bumerang.

 Ketika seorang politikus yang nyata-nyata berada dipuncak elektabilitas yang paling tinggi dan membuat gentar lawan politiknya, semua polling telah memenangkan dirinya dengan nilai yang telak, tapi bagaimana kenyataannya ? diakhir kompetisi dia gagal dan menjadi pihak yang kalah.Pehitungan apa kira-kira dari kandidat yang akhinya memenangkan pertarungannya, Apakah dia hanya nekad, atau ada hal-hal yang dipersiapkan dengan berbagai kemungkinan dengan hati yang ikhlas dan jujur, atau hanya sekedar nasib baik?

 Ketika seorang kolektor benda-benda bertuah atau jimat sangat menginginkan sebuah jimat tertentu, berbagai upaya dilakukan dengan kemampuan supranaturalnya yang hebat, tapi yang diinginkannya itu tak pernah ia temukan, hingga pada suatu hari seorang gembala menemukan benda yang dimaksud tapi dia mengabaikannya. Gembala itu tidak mengambilnya karena ia merasa tak memerlukan benda itu.

Kenapa yang tidak memerlukannya diberikan pengetahuan, kenapa tidak pada yang sangat memerlukannya yang dalam waktu yang sama juga sedang sekuat tenaga mengupayakan? Jawabnya "aku tidak tahu"Hanya yang sering kudengar dari kata kegagalan dan keberhasilan yang menimpa pada yang tidak terpikirkan adalah sebuah nasib. Apakah itu nasib atau kebetulan itu suatu hal yang sama, jika keduanya hadir pada sebuah ketidak siapan, harapan dan penuh dengan asal-asalan, alangkah malangnya persiapan dan kelengkapan yang matang dengan biaya yang besar.Dimana kita harus berdiri, jika yang secara matang dipersiapkan mengalami kegagalan apakah sebaiknya kita melakukan sesuatu dengan serampangan saja? Sungguh pertanyaan yang konyol.

Mungkin semua itu jawabannya adalah berawal dari kebodohan. Ketika ada Kalimat, "Samakah orang yang tahu dengan orang yang tidak tahu?". Jadi kenapa kita bingung dalam sebuah hal yang kita tidak tahu, semua itu karena kita tidak tahu. Bukankah jika kita tahu akan semua hal yang kita tidak tahu pasti tidak akan ada pertanyaan ?

0 komentar:

Posting Komentar